Tips Masak

7 Kandungan Minyak Goreng Sawit yang Perlu Moms Ketahui

Ditulis oleh : Bu Molly

7 Kandungan Minyak Goreng Sawit yang Perlu Moms Ketahui

Kandungan minyak goreng sawit ternyata lebih kompleks dari sekadar lemak biasa. Banyak yang mengira minyak goreng hanya berisi lemak dan kalori saja, padahal di dalamnya ada sejumlah nutrisi yang punya peran penting bagi tubuh jika dikonsumsi dalam jumlah yang tepat.

Memahami kandungannya bukan cuma soal kepo terhadap label kemasan. Dengan tahu apa yang ada di dalam minyak goreng, Moms bisa lebih bijak dalam menggunakannya, dari pilihan jenis yang dipakai sampai cara memasak yang paling bisa mempertahankan manfaatnya.

Berikut tujuh kandungan utama dalam minyak goreng sawit yang perlu diketahui.

1. Lemak Jenuh

Lemak jenuh adalah komponen terbesar dalam minyak goreng sawit, dengan kandungan sekitar 50 persen dari total lemaknya. Dua jenis lemak jenuh yang paling dominan adalah asam palmitat dan asam stearat.

Lemak jenuh sering kali langsung diasosiasikan dengan sesuatu yang buruk, tapi ini tidak sepenuhnya tepat. Asam stearat misalnya, tidak meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah seperti yang selama ini diyakini. Asam palmitat memang perlu dikonsumsi secara terbatas, tapi bukan berarti harus dihindari sepenuhnya.

Dalam konteks memasak sehari-hari dengan porsi yang wajar, kandungan lemak jenuh dalam minyak sawit tidak menimbulkan masalah kesehatan bagi orang yang punya pola makan seimbang secara keseluruhan. Masalah biasanya muncul kalau total asupan lemak jenuh dari semua sumber sudah berlebihan.

2. Lemak Tak Jenuh Tunggal (MUFA)

Sekiritar 40 persen dari kandungan minyak goreng sawit terdiri dari lemak tak jenuh tunggal, yang sebagian besar berupa asam oleat. Ini jenis lemak yang sama dengan yang terdapat dalam minyak zaitun dan sering disebut sebagai salah satu lemak paling baik untuk kesehatan jantung.

Asam oleat diketahui bisa membantu menurunkan kadar kolesterol LDL tanpa mengurangi kolesterol HDL yang bermanfaat bagi tubuh. Kandungan MUFA yang cukup tinggi inilah yang membuat minyak sawit sebenarnya tidak seburuk yang sering digambarkan dari sisi profil lemaknya.

Ini juga salah satu alasan mengapa minyak sawit yang sudah dimurnikan dengan baik masih direkomendasikan oleh banyak ahli gizi sebagai pilihan minyak goreng yang layak untuk memasak sehari-hari, selama konsumsinya tetap dalam batas yang masuk akal.

3. Lemak Tak Jenuh Ganda (PUFA)

Kandungan lemak tak jenuh ganda dalam minyak sawit berkisar sekitar 10 persen, lebih rendah dibanding minyak kedelai atau minyak bunga matahari. Jenis yang dominan adalah asam linoleat, salah satu bentuk omega-6 yang termasuk asam lemak esensial karena tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh.

PUFA memang bermanfaat, tapi stabilitasnya lebih rendah dibanding lemak jenuh atau MUFA saat terkena panas tinggi. Minyak dengan kadar PUFA yang sangat tinggi justru lebih rentan teroksidasi saat dipanaskan berulang kali, yang bisa menghasilkan senyawa tidak baik untuk tubuh.

Kandungan PUFA minyak sawit yang lebih moderat dibanding jenis minyak lain sebenarnya memberi keunggulan tersendiri dalam hal stabilitas saat memasak pada suhu tinggi. Ini yang membuat minyak sawit lebih tahan untuk digunakan dalam proses menggoreng berulang dibanding minyak dengan PUFA sangat tinggi.

4. Vitamin E: Tokoferol dan Tokotrienol

Minyak goreng sawit adalah salah satu sumber tokotrienol terkaya di antara semua jenis minyak nabati. Tokotrienol adalah bentuk vitamin E yang lebih jarang ditemukan di sumber pangan lain tapi punya aktivitas antioksidan yang cukup kuat.

Secara umum, vitamin E dalam minyak goreng sawit terdiri dari empat jenis tokoferol dan empat jenis tokotrienol. Keduanya berfungsi sebagai antioksidan alami yang melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Tokotrienol secara khusus sedang banyak diteliti karena potensinya dalam mendukung kesehatan otak dan jantung.

Kabar baiknya, proses memasak pada suhu normal tidak langsung menghancurkan semua kandungan vitamin E dalam minyak. Sebagian masih terjaga, terutama kalau minyak tidak dipanaskan terlalu lama atau terlalu sering. Ini satu alasan lagi mengapa kualitas proses pemurnian minyak goreng yang digunakan cukup berpengaruh pada nilai gizinya.

5. Beta-Karoten dan Karotenoid

Warna kekuningan atau kemerahan pada minyak goreng sawit yang belum sepenuhnya dirafinasi berasal dari kandungan karotenoid, terutama alfa-karoten and beta-karoten. Beta-karoten adalah provitamin A, artinya tubuh bisa mengubahnya menjadi vitamin A sesuai kebutuhan.

Dalam minyak sawit merah yang belum melalui proses bleaching penuh, kandungan karotenoidnya bisa mencapai 500 sampai 700 ppm (parts per million), menjadikannya salah satu sumber beta-karoten nabati tertinggi. Minyak goreng sawit yang sudah diproses lebih lanjut untuk dijual di pasaran umumnya mengalami pengurangan kandungan karotenoid selama proses pemurnian.

Meskipun begitu, minyak sawit yang diproses dengan teknologi yang tepat masih bisa mempertahankan sebagian kandungan ini. Kualitas proses produksi sangat menentukan seberapa banyak nutrisi yang tersisa setelah pemurnian.

6. Kalori dalam Minyak Goreng

Semua jenis minyak goreng, tanpa terkecuali, mengandung sekitar 9 kalori per gram atau sekitar 120 kalori per sendok makan. Ini berlaku untuk minyak sawit, minyak zaitun, minyak canola, dan lainnya karena kalori pada minyak goreng berasal dari lemaknya, bukan dari jenisnya.

Perbedaan antara satu jenis minyak dan yang lain bukan pada jumlah kalorinya, tapi pada profil lemaknya, kandungan mikronutrien, dan stabilitas terhadap panas. Jadi memilih minyak goreng yang lebih mahal bukan otomatis berarti lebih rendah kalori.

Yang paling berpengaruh pada total kalori dari makanan goreng adalah seberapa banyak minyak yang terserap ke dalam makanan, dan itu sangat ditentukan oleh teknik menggoreng yang digunakan. Gorengan dari minyak yang sudah cukup panas dan tidak terlalu sering dipakai menyerap jauh lebih sedikit minyak dibanding yang digoreng di minyak dingin atau minyak bekas berkali-kali.

7. Perubahan Kandungan saat Minyak Dipanaskan

Ini bagian yang paling sering tidak disadari. Kandungan minyak goreng tidak statis, ia berubah setiap kali dipanaskan, terutama jika dipakai berulang kali pada suhu tinggi.

Oksidasi dan pembentukan radikal bebas

Saat minyak dipanaskan berulang kali, terjadi proses oksidasi yang menghasilkan radikal bebas dan senyawa berbahaya seperti aldehida dan akrolein. Semakin sering minyak dipanaskan, semakin banyak senyawa ini terbentuk. Inilah alasan mengapa minyak goreng bekas yang sudah berwarna sangat gelap sebaiknya tidak digunakan lagi.

Penurunan kandungan vitamin E

Vitamin E dalam minyak goreng berfungsi juga sebagai antioksidan alami yang melindungi minyak itu sendiri dari oksidasi. Setiap kali dipanaskan, vitamin E terkonsumsi untuk menangkal proses oksidasi tersebut. Minyak yang sudah sering dipakai karenanya memiliki kandungan vitamin E yang jauh lebih rendah dibanding minyak segar.

Pembentukan lemak trans

Pemanasan berulang pada suhu sangat tinggi bisa menyebabkan sebagian kecil lemak tak jenuh dalam minyak berubah menjadi lemak trans melalui proses yang disebut isomerisasi. Meski jumlahnya kecil untuk penggunaan rumahan yang wajar, ini jadi salah satu alasan mengapa menggoreng di suhu yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu sering mengulang pemakaian minyak itu penting.

FAQ Seputar Kandungan Minyak Goreng

Apakah semua minyak goreng kandungannya sama?

Tidak. Setiap jenis minyak goreng punya profil lemak, kandungan vitamin, dan stabilitas panas yang berbeda. Minyak zaitun tinggi lemak tak jenuh tunggal, minyak biji bunga matahari tinggi vitamin E dan PUFA, minyak kelapa tinggi lemak jenuh rantai sedang, sementara minyak sawit punya keseimbangan antara lemak jenuh dan tak jenuh yang cukup unik dibanding jenis lainnya.

Apakah minyak goreng mengandung kolesterol?

Tidak. Kolesterol hanya ditemukan pada produk hewani seperti daging, telur, dan produk susu. Semua minyak nabati, termasuk minyak sawit, bebas kolesterol. Yang perlu diperhatikan adalah kandungan lemak jenuhnya karena konsumsi lemak jenuh berlebihan bisa mempengaruhi produksi kolesterol dalam tubuh, meski hubungannya tidak sesederhana yang sering dijelaskan.

Apakah minyak goreng mengandung protein atau karbohidrat?

Tidak ada. Minyak goreng murni hanya mengandung lemak dan kalori dari lemak tersebut. Tidak ada protein, karbohidrat, atau serat di dalamnya. Kandungan lainnya seperti vitamin E dan karotenoid ada dalam jumlah yang cukup kecil secara absolut, meski tetap memberikan manfaat sebagai antioksidan.

Apakah proses memasak menghancurkan semua nutrisi dalam minyak goreng?

Tidak sepenuhnya. Sebagian vitamin E dan karotenoid memang akan berkurang saat dipanaskan, tapi tidak semua hilang, terutama kalau minyak tidak dipanaskan terlalu lama atau pada suhu yang terlalu tinggi. Minyak goreng dengan kualitas pemurnian yang baik cenderung lebih stabil dan mempertahankan lebih banyak kandungan nutrisinya dibanding minyak yang kualitasnya lebih rendah.

Bagaimana cara memilih minyak goreng yang masih terjaga kandungan nutrisinya?

Perhatikan kejernihan warna minyak, tanggal produksi, dan kondisi kemasan. Minyak goreng yang masih baik tidak berbau tengik dan tidak berbusa berlebihan saat pertama kali dipanaskan. Pilih produk yang mencantumkan proses pemurnian pada kemasannya dan simpan di tempat yang jauh dari paparan cahaya langsung dan sumber panas untuk memperlambat oksidasi.

Pilih Minyak Goreng yang Jaga Kandungan Nutrisi Masakan

Mengetahui kandungan minyak goreng membantu Moms lebih cermat dalam memilih dan menggunakannya, bukan sekadar soal rasa tapi juga soal manfaat yang didapat dari setiap masakan yang dihidangkan untuk keluarga.

Untuk masakan yang tidak hanya lezat tapi juga tetap bernutrisi, gunakan Minyak Goreng Bimoli Spesial yang diproses dengan teknologi Golden Refinery dan Pemurnian Multi Proses (PMP). Proses produksi ini dirancang untuk menjaga kandungan nutrisi dalam minyak tetap terjaga, sehingga manfaatnya ikut tersampaikan ke setiap masakan yang Moms buat.

Karena masakan yang baik bukan cuma soal bumbu yang pas, tapi juga pilihan bahan baku yang berkualitas.